Apakah Manusia Masih Punya Hati Nurani

Mei 4, 2007

Dunia semakin lama semakin panas, yang memanas dan mendidikan darah penghuninya, sehingga membuat penghuninya “MABOK”, terutama manusia. Mabok tahta, mabok harta, mabok wanita, mabok hormat, sehingga manusia lupa dengan hati nurani. Apakah masih ada machluk yang namanya yang punya hati nurani, kalau dalam kehidupannya punya semboyan “KALAU BISA DIPERSULIT KENAPA HARUS DIPERMUDAH”, hal ini banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti:

1. Banyak ditemukan, untuk memperoleh jabatan tertentu seseorang menhalalkan segala cara.

2. Banyak sekolah kedinasan, yang dalam penerimaan mahasiswa tidak luput dari uang pelicin, yang nilainya mencapai Rp. 100.000.000,-an, walaupun calon mahasiswa ini tidak memenuhi persyaratan.

3. Banyak SLTP/SLTA unggulan, yang dalam penerimaan siswa baru melalui pintu belakang, yang sudah tentu berbicara nominal.

4. Banyak ditemukan, adanya bantuan yang tidak pernah luput dari potongan yang jumlahnya sangat tidak manusiawi.

Budaya ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika manusia masih memiliki hati nurani. Manusia yang memiliki hati nurani, adalah manusia yang tidak pernah mengambil harta orang lain, yang tidak pernah mempersulit orang lain, yang tidak pernah menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, atau manusia yang punya semboyan “KALAU BISA DIPERMUDAH KENAPA HARUS DIPERSULIT”.


Fenomena Ujian Nasional

April 27, 2007

Ada seorang siswa menyatakan kepada orang tuanya, bahwa dia tidak mau ikut Ujian Nasional, karena takut tidak lulus. Orang Tua siswa membenarkan pendapat tersebut, karena malu sama tetangga jika anaknya tidak lulus Ujian Nasional dan menyampaikan hal tersebut kepada pihak sekolah. Kemudian pihak Sekolah dan Dinas memanggil orang tua siswa, dan menyampaikan agar siorang tua membujuk sianak untuk ikut Ujian Nasional. Dan siorang tua mau membujuk sianak ikut Ujian Nasional asal sianak dijamin lulus dalam Ujian Nasional.

Fenomena diatas sudah membudaya di-kalangan orang tua, dan menjadi Paradigma Masyarakat, dengan kronologis:

1. Murid takut tidak lulus Ujian Nasional, malu sama teman.

2. Orang tua takut anak tidak lulus Unjian Nasional, malu sama tetangga.

3. Guru takut muridnya tidak lulus Ujian Nasional, malu gagal dalam mengajar.

4. Kepala Sekolah takut murid tidak lulus Ujian Nasional, malu dianggap gagal dalam memimpin.

5. Kepala Dinas takut banyak banyak siswa yang tidak lulus Ujian Nasional, malu dianggap gagal dalam membina Kepala Sekolah.

Kelima hal diatas menghasilkan konsesi semua siswa yang ikut Ujian Nasional harus lulus. Hal ini menghasilkan Paradigma yang salah. Kenapa?

1. Kalau belum bisa kenapa harus lulus.

2. Kenapa harus meluluskan orang yang belum bisa.

3. Kenapa harus malu mengakui kekurangan.

4. Banyak orang malu mengakui bahwa ia tidak mampu.

5. Banyak orang membohongi diri sendiri, dengan mengangap diri manusia super.

JANGAN HIDUP DALAM KEBOHONGAN, HIDUPLAH DALAM KEJUJURAN, AGAR KENIKMATAN HIDUP BISA DIRASAKAN.


Uji Coba

April 13, 2007

Blog ini baru dibuat, dan baru ujicoba

phot0215.jpg


Hello world!

April 13, 2007

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!